golbew moc.gudgidgad rehtona tsuJ

tv-merahputijhSekitar dua tahun belakangan ini, kita disodori beberapa tayangan film-film Indonesia yang menarik melalui media tradisional masyarakat yaitu televisi. Katakan saja dimulai dari “Ada Apa Dengan Cinta”, lantas beberapa tahun kemudian diantara bersliwerannya film-film “Ooo, seraam” muncul film bertema relijius yang diangkat dari novel laris “Ayat-ayat Cinta”. Kemudian film bertema segala umur yang membludak penontonnya yaitu “Laskar Pelangi”, disusul dengan film “King”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Garuda Didadamu”, hingga santer terdengar satu film perjuangan yang digarap dengan dana dan sumber daya yang serius yaitu “Merah Putih”.

Berbeda dengan film-film genre “Ooo, seraammm” yang membanjiri bioskop tiap bulan selama beberapa tahun terakhir ini, film-film diatas nampak mempunyai cara dan pendekatan berbeda untuk menarik minat penonton yaitu dengan digunakannya media masa tradisional, media dijital dan komunitas penggemar secara masif. Saya katakan beberapa saja, dan ini kelak akan berdampak pada pendapatannya, karena ternyata sebagian besar masih belum memanfaatkan kampanye masif multimedia berbasis dijital. Padahal, terlihat ada pengaruhnya pada hasil akhir film tersebut. Bagaimana pengaruhnya dan seberapa jauh film-film Indonesia memanfaatkan kampanye dijital? Baca disini terusannya…

Juli 27th, 2009 at 5:40 pm