Belakangan ini, tepatnya sekitar lima tahunan yang lalu, tak lama setelah tsunami membelalakkan mata semua orang di Planet Bumi ini, isu 2012 mencuat ke permukaan. Khususnya di Internet, media distribusi informasi yang saat ini sudah merambah kemana-mana. Disebut kemana-mana karena sekarang ini mobile device sudah lebih mampu beradaptasi dengan internet dan lebih murah dan terjangkau harganya. Akibatnya akses informasi di masyarakat semakin mudah dan cepat meluas. Belum lagi pemberitaan yang gencar atas suatu peristiwa menyebabkan percepatan sebaran informasi. Baik informasi itu gosip atau suatu informasi yang bernilai. Lanjutkan membaca
Dechipering 2012
Menyoroti Kampanye Dijital Film Indonesia di Internet : Dari Laskar Pelangi Hingga Merah Putih
Sekitar dua tahun belakangan ini, kita disodori beberapa tayangan film-film Indonesia yang menarik melalui media tradisional masyarakat yaitu televisi. Katakan saja dimulai dari “Ada Apa Dengan Cinta”, lantas beberapa tahun kemudian diantara bersliwerannya film-film “Ooo, seraam” muncul film bertema relijius yang diangkat dari novel laris “Ayat-ayat Cinta”. Kemudian film bertema segala umur yang membludak penontonnya yaitu “Laskar Pelangi”, disusul dengan film “King”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Garuda Didadamu”, hingga santer terdengar satu film perjuangan yang digarap dengan dana dan sumber daya yang serius yaitu “Merah Putih”.
Berbeda dengan film-film genre “Ooo, seraammm” yang membanjiri bioskop tiap bulan selama beberapa tahun terakhir ini, film-film diatas nampak mempunyai cara dan pendekatan berbeda untuk menarik minat penonton yaitu dengan digunakannya media masa tradisional, media dijital dan komunitas penggemar secara masif. Saya katakan beberapa saja, dan ini kelak akan berdampak pada pendapatannya, karena ternyata sebagian besar masih belum memanfaatkan kampanye masif multimedia berbasis dijital. Padahal, terlihat ada pengaruhnya pada hasil akhir film tersebut. Bagaimana pengaruhnya dan seberapa jauh film-film Indonesia memanfaatkan kampanye dijital? Baca disini terusannya…
100 kata pertama tentang kenaikan harga dan kapan turunnya
100 kata pertama mau saya isi dengan kenaikan harga-harga yang mulai membuat panik masyarakat. Ini memang akibat langsung dari kenaikan BBM yang beberapa waktu lalu di informasikan oleh RI satu.
Kalau soal naik-menaikkan, dewasa ini, siapapun orangnya memang kita jago. Mulai dari pejabat tinggi sampai pedagang asongan, kenaikan harga BBM disambut dengan efek domino dengan kenaikan harga lainnya. Meskipun waktu kenaikan resminya belum diumumkan.
Makanan naik, minuman naik, minyak goreng naik, minyak tanah naik sekaligus juga harus ngantri, bahan bakar kendaraan apalagi, lantas ongkos angkutan pun isunya naik juga. Pertama yang terkena kejutan kenaikan harga BBM tentunya ibu-ibu yang makin hari tampangnya makin memelas. Apalagi yang anaknya sudah mulai sekolah, beban hidup tiba-tiba betambah-tambah seolah-olah ada punuk tambahan di pundaknya.
Bapak-bapak mungkin lebih pusing lagi. Walhasil, semua akhirnya berkumpul menjadi beban hidup kita semua. Rakyat pun umumnya lupa bertanya, “kapan harga turun?”. Tak pernah ada yang berani menjawab, “kapan harga turun?”. Tentu bukannya tidak berani atau tak ada jawaban. Tapi karena memang tak ada yang berani menjawab pada pertanyaan sederhana penuh harap itu : “Kapan harga turun?”.
Selamat Datang di dagdigdug
Saya benar-benar dagdigdug waktu pertama kali ngeblog di dag dig dug dot com.
Biar saja di bilang genit theme nya, soale saya memang lagi bergenit-genit ria.
Selamat membaca bagi yang sempat membaca tanpa dagdigdug.
Ini ceritanya halaman pertama. Menurut petunjuknya begitu.